Tongkonan Kesu’

1 year ago Toraja25

Ke’te Kesu’. Begitulah orang Toraja memberinya nama. Sebuah tempat wisata yang terkenal dengan rumah adatnya, “Tongkonan”. Tidak seperti biasanya, kawasan ini dipenuhi banyak kendaraan, mungkin karna ini hari Minggu. Entah untuk keberapa kalinya saya mengunjungi tempat ini, tempat yang sama, terkesan alami, terasa tidak seperti mengunjungi kawasan wisata pada umumnya. Berbeda dengan kota Jogja atau Bali yang begitu terkenal dengan kawasan wisatanya.Kawasan ini terlihat dan terasa berbeda. Binatang yang berkeliaran dengan bebasnya seperti ayam, anjing, seakan membawa kita ke daerah perkampungan. Suara kicauan burung yang saling bersahut-sahutan, seakan memberikan nyanyian kepada setiap pengunjung yang mendatangi Ke’te Kesu’. Terasa begitu menenangkan, mungkin karna saya menyukai ketenangan alam yang ditawarkan, walau sesekali terdengar suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.


Saya berjalan menuju sebuah lumbung, atau yang lebih dikenal dengan “alang” dimana seorang pria paruh baya duduk diatas sambil bersila, ditemani sekantung buah langsat. Saya pun memberanikan diri untuk menyapanya, “Layuk” , begitu bapak paruh baya itu memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan saya. Tangan yang telah berupaya menjaga kawasan wisata ini agar tetap terjaga. Badannya kurus, namun sangat ramah, dia pun mempersilakan saya duduk. Matanya terlihat letih namun tetap bersemangat untuk menjawab pertanyaan yang saya ingin ketahui.

Tongkon” , ujarnya. Beliau menatap mata saya lekat-lekat sambil sesekali menerawang jauh. Saya tersenyum. Entah mengapa beliau memberikan kesan yang begitu mendalam, saya belum mengenalnya. Saya bahkan tidak mengenalnya. Suaranya dan tutur katanya tidak seperti yang terlihat, beliau berbicara layaknya seseorang yang telah mengenyam pendidikan yang tinggi. Tetapi, saya tidak berani menanyakannya.

“Duduk”, itulah arti kata dari Tongkon. Beliau mulai menjelaskannya dengan sangat hati-hati kepada saya. Tongkonan merupakan suatu symbol yang penting bagi suatu rumpun keluarga. Orang Toraja sangat menghargai arti Tongkonan bagi mereka. Bukan semata-mata karna nilai harta yang terkandung di dalamnya, namun lebih kepada manusia yang tinggal dan bertanggung jawab atas tongkonan itu.

Memaknai “Tongkonan” bukan hanya sekedar rumah adat,atau tempat tinggal orang Toraja. Tongkonan sebagai pengingat sumber kehidupan. Bagi orang Toraja, arah utara menjadi arah yang penting bagi orang Toraja karna utara menunjukkan arah sumber air kehidupan. Arah ini menjadi patokan kehidupan orang Toraja. Sebagai orang Toraja, kepercayaan yang melekat turun-temurun bahwa leluhur orang Toraja berasal dari utara dan jika waktunya tiba orang Toraja akan berkumpul bersama kembali dengan leluhur di utara. Itulah sebabnya mengapa “Tongkonan” harus selalu menghadap ke utara.

Jika ada “Tongkonan” disitu ada “Alang” . Merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. “Alang” atau lumbung yang disebut juga sebagai gudang penyimpanan hasil padi yang telah dipanen. Beliau menawarkan kantung plastik berisi buah langsat itu dan sambil meneruskan ceritanya. “Wanita merupakan kepala rumah tangga”, saya sedikit terkejut mendengar kalimat yang barusan dilontarkan oleh beliau.Wanita memegang peranan penting dalam kehidupan berumah tangga, pria hanya memberikan masukan atau saran, namun wanitalah sebagai pengambil keputusan.

Tongkonan pun memiliki ciri khas tertentu dimana kepala kerbau menjadi salah satu symbol yang dimiliki tongkonan. Mengapa? Kerbau merupakan binatang yang paling berharga di Toraja, juga sebagai symbol kekuasaan. Sebagai salah satu alasan mengapa di Toraja seekor kerbau dapat dihargain dengan harga yang setara dengan mobil alphard. Selain kepala kerbau, symbol yang ada di tongkonan pun ada yang berkepala seperti ayam dan berleher seperti naga. Beliau pun menjelaskan bahwa sesuai dengan kepercayaan orang Toraja dimana orang Toraja sejak dahulu kala memang mempercayai bahwa ada kekuatan yang lebih besar dilangit, sehingga symbol yang kedua ini berada di posisi paling atas dari kepala kerbau. Cukup aneh bukan? Simbol dengan kepala ayam dan berbadan seperti seekor naga, dimana kita bisa menemukan binatang seperti itu? Simbol demikian terbentuk dari bentuk ketidaktahuan masyakarat Toraja dengan wujud ‘pemilik’ kekuasaan yang ada di langit. Namun, pembicaraan kami harus terhenti sampai disitu dikarenakan beliau ada keperluan yang harus diselesaikan. Beliau pun pamit dan saya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan beliau menjawab beberapa pertanyaan yang ada di kepala saya saat itu.

Saya pun kemudian menghampiri seorang ibu untuk mencari jawaban dari pertanyaan saya yang masih belum terjawab. Ibu tersebut menolak untuk memberikan jawaban karena merasa tidak banyak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang akan saya ajukan. Namun, saya tetap bersikukuh untuk mendapatkan jawaban dari ibu tersebut. Ibu Adinapa, begitulah beliau memperkenalkan dirinya. Tongkonan bagi beliau sangat penting artinya karena merupakan sebuat tempat perkumpulan rumpun keluarga. Beliau mengatakan bahwa di Ke’te’ Kesu’ terdapat lima Tongkonan, yang berarti terdapat lima rumpun keluarga. Lumbung atau “alang” yang mendampingi Tongkonan merupakan tanda bahwa terdapat minimal satu sawah untuk setiap Tongkonan. Hanya saja Tongkonan sekarang lebih sering digunakan ketika ada upacara adat Toraja seperti upacara kematian “Rambu Solo’” atau upacara syukuran seperti “Rambu Tuka’” . Terdapat 175 motif ukiran yang terdapat di setiap Tongkonan, jelas Ibu Adinapa. Hanya saja beliau tidak dapat menjelaskan arti setiap motif.

Tongkonan memiliki arti yang sangat penting bagi setiap rumpun keluarga orang Toraja. Ada kepercayaan, kebanggaan, tradisi kuno dan peradaban dari setiap detail dari rumah Tongkonan yang dibangun. Tidak hanya berupa bangunan adat istiadat sebagai ciri khas orang Toraja, tapi juga bermakna sebagai harkat martabat orang Toraja.

admin

I’m just me and I accept all of my quirks. An amateur. I like to sing and when it comes to music, I’ll dance to anything with a good beat. A cinephile. I have herpetophobia. I would scream and run out of the room when I saw a gecko, rat or frog.