Sumalu: Bukit Pasir Hitam di Toraja

1 year ago Blog115

Sumalu, Kab. Buntao’, Rantebua – Julukan wisata pekuburan disandang Toraja selama ini tampaknya mulai bergeser. Dipicu rasa haus akan wisata baru, membuat anak-anak muda di Toraja berlomba mencari daerah yang punya daya tarik. Setelah Lolai dengan tajuk Negeri di atas Awan, Sumalu mencuat dengan bukit pasirnya. Bukit pasir berwarna hitam menjadi objek selfie dan bahkan tak lama setelah debut pertamanya, Sumalu menjadi kawasan wisata yang hits di Toraja.

“Yuk ke Sumalu.” Ajakan awal yang membawa kami ke bukit pasir ini. 45 menit bukanlah waktu yang tepat untuk menggambarkan jarak tempuh menuju Sumalu walau perjalanan diawali dengan jalanan aspal yang mulus! Jalanan aspal yang membuatku berpikir, ini bukan Toraja!

Tak terlalu sulit menemukan wisata ini, walau kami harus berhenti menanyakan arah beberapa kali dengan jawaban yang sama: lurus saja. Arah tanda masuk pun terlihat dengan jelas, diberi nama Gunung Pasir Sumalu. Iya, gunung. Entah siapa yang pertama kali memberikan nama itu.

Jalanan berbatu telah siap di depan mata. Sesekali kami yang hanya duduk manis di kursi belakang sepeda motor, harus turun berjalan kaki. Namun tak sedikit juga anak gaul yang nekat berkendara sampai parkiran di Sumalu. Darah muda.

Belum ada tiket masuk, hanya toples kaca bertuliskan partisipasi; sesuai kerelaan pengunjung. Beberapa warung terlihat menjajakan aqua, mi instan, dan jajajan kecil lainnya. Tak ada minuman dingin. Ibu penjual warung mengatakan belum ada listrik di Sumalu, bahkan penduduknya pun sangat sedikit, hanya ada lima keluarga.

Pengunjung asyik berfoto selfie, duduk di atas ketinggian bukit, bahkan ada yang bisa naik, tapi tak bisa turun. Tak banyak hal yang dilakukan di sini, selain eskalasi narsisme. Kurangnya aktivitas menyenangkan membuat sekali perkunjungan terasa cukup.

Kami pun beranjak pergi dan berkunjung ke bukit pasir hitam yang katanya lebih besar dari Sumalu. Setelah melewati jalanan yang berbatu, bukit pasir itu teronggok di pinggir jalan. Bukannya malah lebih besar, tapi lebih kecil. Apakah memang orang Toraja ketika memberikan petunjuk arah, ataupun bentuk justru merupakan kebalikannya? Entahlah. Yang jelas kami menemukan hal yang menyenangkan di sini! Main prosotan! Mulai dari prosotan kecil hingga titik yang paling tinggi. Kami pun mengabadikan momen masa kecil kurang bahagia berulang kali! Saya pun berharap Sumalu bisa diubah menjadi Prosotan Pasir Hitam. Tentu saja dengan pengaturan yang baik agar tidak sembarangan, sehingga kita bisa menikmati wisata alam tanpa merusaknya. Semoga!

Ingin berkunjung ke Sumalu? Jangan lupa pake sun lotion, bawa topi dan uang secukupnya, membeli air minum atau jajanan lain yang dijual para ibu di sana cukup membantu perekonomian mereka. Dan tentu saja selalu bertanggung jawablah ketika berkunjung, jangan membuang sampah sembarangan! Karna dengan menjaga kebersihan tempat wisata, kita ikut membantu melestarikan budaya Toraja!

admin

I’m just me and I accept all of my quirks. An amateur. I like to sing and when it comes to music, I’ll dance to anything with a good beat. A cinephile. I have herpetophobia. I would scream and run out of the room when I saw a gecko, rat or frog.