Cerita dari Batulelleng

14 days ago Blog, Toraja82

“Kesal loh liat ini”, ujar Kak Olyvia sewaktu kami melewati lapangan bakti. “Ngebersihinnya itu sedikit-sedikit”.  Sampahnya berserakan, pohon-pohon Natal yang diperlombakan pun telah tumbang. Bambu-bambu lantang serta panggung yang kabarnya menghabiskan ratusan juta pun mulai dibongkar. Pohon Natal yang katanya berhasil masuk MURI, berdiri dalam diam, entah bagaimana nasibnya kemudian. Hela napas.

Dan kami pun terus berjalan menuju Batulelleng.

Tampak beberapa bangunan kayu dengan model atap seperti rumah adat Mamasa. Seorang Bapak menjelaskan bahwa bangunan ini merupakan peninggalan Belanda, dan tanahnya adalah milik gereja, berjumlah 15 buah. Bangunan kecil ini merupakan tempat tinggal orang-orang yang diasingkan karena sakit lepra. Kabarnya dulu saat jaman Belanda, ada 1000 orang yang ditempatkan di daerah ini. Walau kini mereka telah sembuh, tak mudah untuk berbaur dengan masyarakat, mereka masih dipinggirkan.

Saat ini setiap bangunan rata-rata hanya diisi satu orang saja karena kabarnya telah banyak yang meninggal. Seorang Ibu membawa barang dagangan hasil kerajinannya sendiri berupa gantungan kunci serta kalung yang terbuat dari manik-manik.

Ada rasa kagum juga sedih pada Ibu ini, masih berusaha sekalipun memiliki keterbatasan fisik karena sakit. “Dalle’na mo (sudah rejeki si Ibu)”, kata seorang Bapak pada kami. Seberapa banyak yang bisa dihasilkan si Ibu? Padahal mungkin saja beliau hanya berjualan sekitar rumahnya saja, mengingat mereka adalah orang-orang yang dijauhi oleh masyarakat. Banyak yang tak tahu jika penyakit lepra bukanlah penyakit yang mudah menular. Bahkan manusia memiliki kekebalan alami terhadap penyakit ini.

Di kawasan ini juga ada sebuah gereja bagi penduduk sekitar. Sebuah gereja mungil yang menggunakan velg mobil sebagai lonceng, mengingatkan waktu masih SD dulu, loncengnya sama. Sayangnya kami tak bisa masuk ke dalam, hanya bisa mengintip lewat jendela yang terbuka.

Gereja ini berada di samping Taman Makam Pahlawan, dengan sedikit pendakian kecil dan lompat pagar dinding, tibalah kami di pekuburan para Pahlawan.  Rerumputannya tinggi, sayur babi tumbuh subur di sini. Kaca tempat pajangan nama para Pahlawan pecah-pecah. Sebuah bangunan tempat memajang foto para Pahlawan terlihat tak terurus, menjadi tempat bermain para burung.

“Daripada bikin pohon Natal, mendingan buat pugar ini kan?”, kata Kak Olyvia.

Huruf H dan G pada kalimat Hargailah Pahlawanmu yang tertulis pada gerbang masuk Taman Makam Pahlawan telah hilang. Perjalanan singkat pagi ini menyadarkan untuk tidak melupakan jasa para pejuang. Ini merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di tempat ini, saya pun jadi tahu jika Sulo dan Kostan merupakan nama para pejuang Toraja. Terima kasih Kak Olyvia Bendon yang selalu mengajak jalan-jalan sambil belajar!

admin

I’m just me and I accept all of my quirks. An amateur. I like to sing and when it comes to music, I’ll dance to anything with a good beat. A cinephile. I have herpetophobia. I would scream and run out of the room when I saw a gecko, rat or frog.