Berceloteh tentang rokok, iman, patung di Toraja

1 month ago Blog, Toraja63

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi

(Keluaran 20:4)

 

Saya bukanlah seorang rohaniwan ataupun seorang teolog. Semenjak kepindahan saya dan suami kembali ke tempat kelahiran saya di Toraja, kami menjauh dari kehidupan bergereja. Bukan suatu hal yang saya patut banggakan, sama sekali tidak. Saya akui dan menyadari, seharusnya saya kembali dalam pelayanan seperti yang saya lakukan ketika masih berada di Surabaya. Tapi, saya tidak bergairah, tidak memiliki semangat yang sama ketika saya masih berada di GKKA. Saya tahu pergi ke gereja adalah menyembah pada Tuhan, tidak melihat siapa orangnya, tidak menilai siapa pendetanya. Tapi, satu pertanyaan masih melekat dalam diri saya, seorang pendeta kok merokok?

Ah, mungkin anda yang sedang membaca ini yang juga seorang perokok, pasti akan mencibir saya. Ya, saya tidak suka rokok. Saya tidak akan berbohong, asapnya membuat saya mual dan jengkel. Tapi, bukan berarti saya membenci perokok lalu menganggap para penikmat rokok adalah kumpulan orang yang tidak baik. Beberapa teman saya pun perokok dan mereka rata-rata perokok yang sopan. Sopan karena tidak menghembuskan asapnya sembarangan. Walaupun saya berharap mereka berhenti merokok. Rokok kuanggap sebagai sebuah bentuk kebodohan, pelarian, nikmat sementara yang justru menyusahkan banyak orang. Ibaratnya saya harus pergi ke rumah makan dengan seseorang, lalu dia memesan makanan yang saya tidak sukai, lalu memaksa saya mencicipi pesanannya tersebut. Siapa yang suka dipaksa? Tak terkecuali bagi seorang budak yang tidak punya pilihan.

Yah, merokok atau tidak merupakan hak masing-masing individu. Lalu, mengapa saya protes seorang pendeta yang merokok? Bukankah itu hak pendeta tersebut? Apakah saya seorang yang idealis yang berpikir tidak etis bagi seorang yang berdiri di atas mimbar menghisap rokok? Mungkin saja. Mulut yang sama mengajarkan hal tentang kebaikan, kebajikan, lalu kemudian mulut itu pun menghisap kebodohan. Maaf, karena saya harus menggunakan kata bodoh di sini, tapi memang begitu adanya.

Cukup membahas tentang rokok, karena memang pada dasarnya saya tidak ingin membahas itu (lalu kenapa dibahas? *disebulin asap rokok). Yah, biar panjang aja tulisannya. Hahaha.

Sebenarnya saya mau berceloteh tentang pandangan saya terhadap satu dua hal yang masih tergolong baru di Toraja. Patung Tuhan Yesus di Burake, Tana Toraja. Menurut artikel Kompas yang saya baca, pengerjaan patung ini sudah dimulai sejak tahun 2012. Tahun 2013, sayembara dibuka bagi siapa yang akan mengerjakan patung tersebut. Setahun kemudian, seniman asal Yogyakarta lah, yang mengerjakan patung ini, selesai pada tahun 2015. Jadi, proses pembuatan patung yang dikabarkan bakal menyaingi patung Yesus di Brasil, dilakukan dalam tempo satu tahun. Satu tahun, bayangkan! Hasilnya?

Awalnya, saya bahkan tidak berminat untuk mengunjungi obyek wisata baru ini. Hanya karena kunjungan seseorang yang jauh-jauh dari Korea, akhirnya saya harus menemani. Dari kejauhan, patung itu terlihat bungkuk, sedang memberkati. Bahkan konon, beberapa wilayah yang berada di balik punggung patung ini sempat protes, merasa tidak ikut diberkati. Benarkah sebuah patung dapat memberi berkat? Ayat Alkitab yang sudah saya kutip di atas pun sebenarnya sudah jelas menekankan soal patung-patungan.

Di Rantepao, Toraja Utara, juga tak ketinggalan dengan salib yang dibangun di atas bukit Singki’. Menurut apa yang saya baca, salib ini diharapkan menjadi kebanggan masyarakat Toraja Utara, lalu menjadi salah satu langkah kreatif pemerintah daerah untuk memperkuat destinasi Toraja menjadi world heritage. Dana yang dihabiskan untuk membuat ini sebesar 6 miliar. Saya terganga membaca berita ini, bagi saya ini seperti alasan yang dibuat-buat, tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin patung-patung, tugu, atau apalah sebutannya mampu mendorong pariwisata Toraja menjadi warisan dunia?

Tahun ini, Toraja Utara kembali membuat sebuah “gebrakan” dengan membuat pohon natal dari bambu. Bahkan konon akan menjadi pohon natal raksasa, ingin memecahkan rekor MURI. Salahkah membuat pohon natal? Tentu saja tidak. Hanya saja, saya merasa mual dengan segala proyek yang tidak jelas arahnya. Apakah karena Toraja penduduknya mayoritas beragama Kristen, lalu dibuatlah proyek yang jelas-jelas bagi orang Kristen dianggap sebagai hal yang positif terlepas dari makna, fungsi dan tujuannya?

Bagaimanakah seharusnya kita sebagai umat Kristiani, yang beriman pada Tuhan Yesus?

Patung-patung yang telah dibangun, pohon Natal raksasa yang menjulang tinggi itu, apakah itu sebagai wujud iman kita sebagai orang Kristen? Begitukah kita memaknai kepercayaan kita pada Yesus Kristus? Bukankah Tuhan Yesus juga berfirman pada kita untuk tidak membuat patung apapun wujudnya itu?

 

 

 

 

admin

I’m just me and I accept all of my quirks. An amateur. I like to sing and when it comes to music, I’ll dance to anything with a good beat. A cinephile. I have herpetophobia. I would scream and run out of the room when I saw a gecko, rat or frog.