Belajar Menulis Cerpen

11 days ago Cerpen27

elmosphere_kursi_tua

Ruangan yang ditempatinya gelap dan pengap. Wanita paruh baya itu berjalan perlahan menuju ruang makan, keringat dingin bercucuran deras dari keningnya. Sebuah meja bundar dan dua buah kursi penuh debu terletak di tengah ruangan itu. Ia mengelap kursi dengan tangannya, lalu mengibaskan debu pada lengan bajunya.  Debu berhamburan ke udara, wanita paruh baya itu sampai terbatuk-batuk. Ia menggeser kursinya dengan perlahan lalu terduduk. Keringat dingin membasahi kerah bajunya yang usang. Matanya memandang sekeliling. Tiba-tiba rasa kering menggeliat di tenggorokannya, haus. Wanita paruh baya itu meletakkan kedua tangannya di atas meja, meninggalkan cetakan berbentuk tangan di atasnya, Ia pun bangkit perlahan. Tak berkasut, kaki kotor dan hitam bergerak ke lemari kecil di sudut ruangan. Kosong.

Ia membuka kran, tapi hanya bunyi kering kerontang yang keluar dari mulut penuh karat. Rasa panas di tenggorokan terasa sampai ke ubun-ubun. Wanita paruh baya itu menghampiri jendela yang tertutup rapat. Bukan saat yang tepat untuk mengutuki diri sendiri karna tubuhnya lapuk dimakan usia. Ia bukan hanya tak memiliki otot untuk membuka jendela yang dipaku rapat-rapat itu, tenaga pun tak punya. Ia berusaha minta tolong, namun hanya desahan nafas keluar dari mulut dan bibir pecah-pecah itu. Keringat terus mengalir dari keningnya, Ia mengusapnya perlahan dengan jarinya yang kurus, lalu menyesapnya. Sakit kepala hebat menyeruak tiba-tiba, Ia memukul-mukul kepalanya dengan kedua belah tangannya, berharap sakit kepala itu sirna. Pukulan lemah justru membuatnya pusing.

Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, mengapa dirinya bisa berada di tempat seperti ini. Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa, jelas di telinganya, wanita paruh baya itu menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi Ia tidak dapat menemukan sumber suara itu. Ia menjadi kebingungan. “Aku bisa gila”, ujarnya dalam hati. Ruang makan tertutup itu memiliki satu buah pintu bercat putih, Ia menghampirinya. Terkunci. Ia menggoncang-goncangkan pegangan pintu itu, berharap pintunya dapat terbuka ataukah seseorang di luar sana bisa mendengarnya dan menolongnya. Sia-sia. Ia bahkan sudah tak punya tenaga lagi.

Wanita paruh baya terduduk di dekat pintu putih. Bajunya semakin kotor dan lusuh terkena debu.  Ia menggosokkan matanya yang perih karna keringat, debu hitam menempel di wajahnya. Ia kemudian menangis. Di tengah isakan tangis bisu wanita paruh baya, terdengar langkah kaki di luar pintu bercat putih. Wanita paruh baya menghentikan tangisnya dan langsung berdiri. Ia mengusap air matanya dengan lengan baju, menambah kumal penampilannya. Seorang anak perempuan membuka pintu putih dan langsung menutupnya kembali. “Tidak, tolong aku”, kata wanita paruh baya lirih. “Aku harus segera keluar dari sini”, sambil mengkatupkan kedua tangannya yang hitam ke depan mulutnya, berharap anak perempuan itu dapat menolongnya. “Belum saatnya”, kata anak perempuan sembari merogoh kantungnya dan memberikan wanita paruh baya secarik kertas dan sebuah pena. “Apa maksudmu belum saatnya? Tolonglah aku”, Ia kembali terisak tapi menerima pemberian anak perempuan itu. “Kata Tuanku, bersabarlah. Saatnya akan tiba”, jawab anak perempuan datar, seperti tak peduli dengan kepanikan wanita paruh baya. “Siapa yang kau maksud dengan Tuanmu? Apa yang akan kulakukan dengan kertas ini?”, tanyanya putus asa. “Kau akan membutuhkannya nanti, simpanlah dengan baik”, suara datar tak berempati anak perempuan yang membuka pintu putih dan menutupnya kembali. Suara langkah kaki anak perempuan semakin menjauh.

Belaian lembut membangunkannya. Ia membuka mata perlahan, samar-samar dilihatnya seorang anak remaja berparas cantik duduk di sampingnya. “Sabarlah, semuanya akan segera berakhir”, remaja perempuan itu tersenyum. Wanita paruh baya berusaha untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, namun Ia tak bisa. Suaranya tercegat, Ia hanya bisa menganga. “Aku mengerti kesusahanmu, sabarlah”, remaja perempuan tersenyum kembali dan berdiri menuju meja bundar di tengah ruangan. Rok hitam ketat di atas lutut, tank top putih, sepatu berhak tinggi, lipstick merah merona di bibirnya dan rambut panjangnya dibiarkan menari ke sana ke mari mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping. Remaja perempuan menyulut sebatang rokok yang ada di tangannya dan duduk di atas meja. Asap rokoknya dikepulkan tinggi-tinggi ke udara, menaruh rambutnya di belakang telinga, kemudian tertawa keras-keras. Wanita paruh baya memandangnya keheranan.

“Selama ini kau hidup sendirian bukan?” tanya remaja perempuan.

“Darimana kau tahu? Aku bahkan tidak pernah mengenalmu”

“Cih, kau bahkan tak menikah. Muak dengan segala percintaanmu bukan? Kau tak tahan dengan satu cinta, kau bahkan memacari suami orang!”, remaja perempuan tertawa semakin keras.

“Siapa kau sebenarnya? Bagaimana mungkin…”

Remaja perempuan itu terdiam, raut wajahnya berubah sedih. “Ibumu seorang yang kejam, Ia sering memukulmu tanpa sebab bukan? Pemabuk berat. Aku sering mendengarmu menangis”

“Bagaimana kau tahu semua itu? Kau siapa sebenarnya?”, wanita paruh baya berusaha berdiri, tapi Ia tak sanggup.

“Sudahlah, hemat energimu. Tak perlu kau tahu siapa aku. Toh, selama ini kau orang yang sangat tertutup, kecuali bagi para pria yang menggandrungimu”

Remaja perempuan mematikan rokoknya di atas meja dan menuju pintu putih.

“Sampai nanti”

Pintu tertutup. Suara langkah kaki remaja perempuan pun menghilang.

Berbaring di atas lantai kotor yang semakin lama terasa semakin dingin. Ia tak sanggup lagi berdiri. Nafasnya terasa berat, udara berisikan butiran debu menambah rasa sesak.

admin

I’m just me and I accept all of my quirks. An amateur. I like to sing and when it comes to music, I’ll dance to anything with a good beat. A cinephile. I have herpetophobia. I would scream and run out of the room when I saw a gecko, rat or frog.